Ganasnya Badai Dan Buaya Dalam Film Crawl

Buat kamu yang suka dengan film pertarungan antara manusia dengan hewan seperti Piranha 3D, The Shallows, dan The Meg, Crawl bisa kamu masukkan di daftar film yang wajib ditonton. Setelah menuai sukses melalui film A Quiet Place, Paramount kembali menghadirkan film thriller bencana berjudul Crawl. Paramount telah menunjuk Alexander Aja sebagai sutradara. Aja adalah sutradara asal Perancis yang terkenal setelah menyutradarai film horor High Tension, yang membawanya ke Amerika Serikat, lalu ia berhasil membuat film seperti The Hills Have Eyes tahun 2006, yang merupakan remake dari film klasik karya Wes Craven tahun 1977. Aja juga menyutradarai Horns, yang menampilkan Daniel Radcliffe, dan The 9th Life of Louis Drax, yang dibintangi oleh Jamie Dornan. Sam Raimi, sang maestro horor dari film Evil Dead dan Spider-Man, hadir sebagai produser bersama bersama Craig Flores, yang terkenal dari film drama Fathers and Daughters hingga film perang yang sangat heroik 300: Rise of an Empire. Sementara itu, skenario ditulis oleh dua bersaudara Michael dan Shawn Rasmussen. Duet dari film trilogi Maze Runner menjadi bintang utama film ini yaitu Barry Pepper dan Kaya Scodelario.

 

Saat badai dahsyat menghantam kota Florida, Haley Keller (Kaya Scodelario) menolak dievakuasi dari kota karena berusaha untuk menemukan ayahnya Dave (Barry Pepper). Setelah Haley menemukan ayahnya di ruang bawah tanah rumah keluarga mereka di Coral Lake, mereka berdua menyadari bahwa akibat badai, buaya hadir di ruang bawah tanah dan di sekitar rumah mereka. Dengan tidak ada sama sekali bala bantuan, pelarian yang hampir mustahil, dan air yang terus naik, Haley dan Dave harus melarikan diri buaya yang membabi buta di saat mereka berusaha melarikan diri dari badai.

 

Bagi para penonton yang sudah melihat materi promosi dan cuplikan filmnya, sangat jelas bahwa unsur ketegangan adalah kekuatan utama film ini. Sejak 10 menit pertama film hingga akhir film ini menampilkan ketegangan yang luar biasa. Mulai dari suara, akting para pemain, hingga sinematografi yang sangat baik dalam mengeksplorasi ruang di film ini. Jika berbicara mengenai setting, sang sineas hanya menggunakan ruang bawah tanah dan rumah dari Haley dan Dave. Sepanjang adegan di ruang bawah disajikan sangat menarik dan mendebarkan seakan nyawa film berada di adegan ini karena sangat sesuai juga dengan judulnya. Dari segi visual, dapat dikatakan bahwa efek yang digunakan dalam film ini terasa nyata. Penonton seperti dibawa berada dekat dengan buaya yang nyata dan berusaha memangsa manusia. Dari segi musik / score, terlihat bahwa Max Aruj dan Steffen Thum selaku komposer musik memilih musik yang sangat pas dengan tema film. Mereka tahu dengan jelas mana musik yang dapat meningkatkan ketegangan. Mereka juga mengeksekusi musik itu dengan sangat baik terlihat bagaimana musik tersebut muncul di saat adegan yang menegangkan. 

 

Film ini juga menampilkan hubungan ayah dan anak perempuan yang cukup menyentuh. Di awal film diceritakan bahwa hubungan Haley dan Dave tidak begitu baik. Sebagai anak perempuan yang mengasihi ayahnya, Haley tetap berusaha mencari ayahnya meski harus berjuang melawan badai. Situasi sulit dan terdesak memaksa mereka untuk saling bahu membahu melawan buaya. Ini merupakan salah unsur yang menarik dari film ini dan tidak terdapat pada film-film sejenis ini. Apakah Crawl mampu bersaing di tangga box office musim panas ini? Kita lihat saja nanti. Buat kamu yang ingin melihat serunya aksi Kaya Scodelario, film Crawl sudah rilis di bioskop kesayangan kamu mulai tanggal 10 Juli 2019!